
Weton Menurut Islam: Hukum, Pandangan Ulama, dan Penjelasan Lengkap
Di masyarakat Jawa, weton masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang menggunakan weton untuk berbagai keperluan, mulai dari mengenali karakter, menentukan hari penting, hingga urusan pernikahan. Namun, bagi umat Muslim, muncul pertanyaan besar: bagaimana sebenarnya weton menurut islam? Apakah weton hanya sebatas budaya, atau justru bertentangan dengan ajaran agama?
Pertanyaan tentang weton menurut islam semakin sering dibahas karena mayoritas masyarakat Jawa juga beragama Islam. Tidak sedikit yang merasa ragu, apakah mempercayai weton termasuk hal yang dibolehkan atau justru dilarang. Oleh karena itu, memahami weton menurut islam secara utuh sangat penting agar kita tidak keliru dalam menyikapi tradisi, sekaligus tetap menjaga aqidah. Artikel ini akan membahas weton dari sudut pandang Islam dengan bahasa yang mudah, lugas, dan tidak menghakimi.
Daftar Isi
Apa Itu Weton Jawa?
Pengertian Weton Jawa
Weton adalah sistem penanggalan tradisional Jawa yang menggabungkan hari dalam kalender Masehi (Senin sampai Minggu) dengan lima pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi hari dan pasaran inilah yang disebut weton. Setiap orang memiliki weton berdasarkan hari kelahirannya.
Dalam praktiknya, weton sering digunakan untuk membaca karakter seseorang, mencocokkan jodoh, atau menentukan hari yang dianggap baik untuk suatu acara. Semua perhitungan ini biasanya merujuk pada primbon Jawa, yaitu kitab tradisional yang berisi berbagai pengetahuan turun-temurun.
Asal Usul Weton dalam Budaya Jawa
Weton sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Sistem ini berkembang dari kepercayaan dan filosofi masyarakat Jawa kuno yang sangat dekat dengan alam dan simbol-simbol kehidupan. Setelah Islam datang, weton tetap bertahan sebagai tradisi budaya, meskipun keyakinan masyarakat mulai bercampur antara adat dan agama.
Weton Menurut Islam: Budaya atau Ajaran?

Posisi Budaya dalam Islam
Islam pada dasarnya tidak menolak budaya. Banyak tradisi lokal yang tetap boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat. Budaya dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia, sedangkan agama menjadi pedoman utama dalam menentukan benar dan salah.
Dalam konteks ini, weton menurut islam perlu dilihat terlebih dahulu apakah ia hanya sebatas budaya atau sudah masuk ke ranah keyakinan. Jika weton hanya dianggap sebagai pengetahuan tradisional tanpa diyakini memiliki kekuatan gaib, maka posisinya berbeda dibandingkan jika weton dipercaya sebagai penentu nasib.
Weton dalam Perspektif Islam
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Ketika weton diyakini hanya sebagai warisan budaya atau catatan hari lahir, maka tidak ada masalah besar. Namun, jika weton dipercaya dapat menentukan nasib, rezeki, jodoh, atau keselamatan seseorang, maka di sinilah Islam memberikan batasan yang tegas.
Hukum Weton Menurut Islam
Apakah Weton Diperbolehkan?
Secara umum, hukum weton menurut Islam bergantung pada bagaimana seseorang menyikapinya. Islam tidak melarang seseorang mengetahui weton kelahirannya. Bahkan, menghitung weton secara teknis, misalnya menggunakan kalkulator weton jawa, tidak otomatis menjadi perbuatan terlarang.
Masalah muncul ketika weton dijadikan pegangan utama dalam mengambil keputusan hidup, seolah-olah weton memiliki kekuatan yang menentukan takdir. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan terhadap weton bisa bertentangan dengan ajaran Islam.
Weton Haram atau Halal?
Tidak ada istilah halal atau haram yang mutlak untuk weton sebagai budaya. Yang dinilai adalah keyakinan di baliknya. Jika weton dipercaya membawa keberuntungan atau kesialan secara mutlak, maka hal ini mendekati praktik ramalan, yang dalam Islam dilarang. Sebaliknya, jika weton hanya dipandang sebagai tradisi tanpa diyakini kebenarannya secara mutlak, maka hukumnya bisa menjadi mubah (boleh).
Weton dan Aqidah Islam
Apakah Weton Termasuk Syirik?
Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Weton bisa menjadi masalah aqidah jika seseorang meyakini bahwa weton memiliki kekuatan yang setara atau bahkan melebihi kehendak Allah. Misalnya, percaya bahwa seseorang pasti celaka atau bahagia hanya karena wetonnya.
Namun, tidak semua orang yang mengetahui weton otomatis melakukan syirik. Mengetahui weton sebagai bagian dari budaya atau pengetahuan umum berbeda dengan meyakininya sebagai penentu nasib.
Weton dan Takdir
Dalam Islam, takdir adalah ketentuan Allah yang tidak bisa ditentukan oleh hitungan manusia. Rezeki, jodoh, dan kematian sepenuhnya berada di tangan Allah. Oleh karena itu, weton menurut islam tidak bisa dijadikan alat untuk memastikan masa depan. Islam justru mengajarkan manusia untuk berusaha, berdoa, dan bertawakal, bukan bergantung pada hitungan tertentu.
Pandangan Ulama tentang Weton

Pendapat Ulama Secara Umum
Mayoritas ulama sepakat bahwa segala bentuk ramalan nasib tidak dibenarkan dalam Islam. Weton yang digunakan untuk meramal masa depan termasuk dalam kategori ini. Para ulama menekankan bahwa keyakinan semacam itu dapat merusak tauhid jika dipercaya secara mutlak.
Namun, ulama juga memahami bahwa weton merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa. Selama tidak diyakini sebagai kebenaran mutlak, sebagian ulama memandangnya sebagai adat yang tidak memiliki nilai agama.
Weton dalam Kajian Islam Kontemporer
Banyak ustadz dan cendekiawan Muslim masa kini menjelaskan weton dengan pendekatan edukatif. Mereka menekankan pentingnya memisahkan antara budaya dan akidah. Weton boleh dikenal sebagai budaya, tetapi tidak boleh diyakini sebagai penentu hidup. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak terjebak pada keyakinan yang keliru, sekaligus tetap menghargai tradisi.
Weton dalam Kehidupan Sehari-hari
Weton dalam Pernikahan
Salah satu penggunaan weton yang paling populer adalah untuk mencocokkan jodoh. Banyak pasangan yang dinilai cocok atau tidak cocok berdasarkan weton. Dalam Islam, kecocokan jodoh tidak ditentukan oleh weton, melainkan oleh iman, akhlak, dan kesiapan masing-masing pihak.
Islam menganjurkan istikharah dan musyawarah dalam menentukan keputusan besar seperti pernikahan. Mengandalkan weton sebagai penentu utama jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Menentukan Hari Baik
Sebagian orang menggunakan weton untuk menentukan hari baik atau menghindari hari tertentu. Dalam Islam, tidak ada hari yang membawa sial secara mutlak. Semua hari adalah ciptaan Allah dan pada dasarnya baik. Keyakinan bahwa hari tertentu pasti membawa kesialan termasuk ke dalam kepercayaan yang perlu diluruskan.
Bolehkah Muslim Mempercayai Weton?
Batasan yang Perlu Dipahami
Muslim diperbolehkan mengenal weton sebagai bagian dari budaya dan sejarah. Namun, mempercayai weton sebagai penentu nasib adalah hal yang tidak dibenarkan. Sikap yang dianjurkan adalah menjadikan weton sebagai pengetahuan, bukan keyakinan.
Sikap Bijak terhadap Tradisi
Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim boleh menghargai tradisi leluhur tanpa harus menjadikannya pegangan hidup. Dengan memahami kenapa orang jawa percaya weton, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi tradisi tanpa harus terjebak dalam keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Pertanyaan Umum tentang Weton Menurut Islam
Apakah menghitung weton itu dosa?
Menghitung weton sebagai pengetahuan budaya tidak otomatis berdosa, selama tidak diyakini sebagai penentu nasib.
Apakah Islam melarang tradisi Jawa?
Islam tidak melarang tradisi selama tidak bertentangan dengan tauhid dan syariat.
Apakah weton sama dengan ramalan?
Weton menjadi ramalan jika digunakan untuk memastikan masa depan. Jika hanya sebagai tradisi, maka sifatnya berbeda.
Kesimpulan
Weton menurut islam harus dipahami secara proporsional. Weton adalah bagian dari budaya Jawa yang telah diwariskan turun-temurun, bukan ajaran agama.
Islam tidak melarang mengenal weton sebagai tradisi, tetapi melarang mempercayainya sebagai penentu nasib, rezeki, atau jodoh.
Aqidah Islam menegaskan bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah, bukan dalam hitungan hari dan pasaran. Oleh karena itu, sikap terbaik adalah menghargai budaya tanpa menjadikannya keyakinan, serta tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang menekankan doa, usaha, dan tawakal.
